Pokoknya Menulis is amazing

         Cirebon, 16 Maret 2015

  Perjuangan Dalam Menulis
Oleh : Dedi Supriyadi
Kelas : PBI-C/2

Pada chapter review perdana kali ini saya akan mengulas kembali buku yang berjudul “Pokoknya Menulis” karya A. Chaedar Alwasilah dan Senny Suzanna Alwasilah. Saya mempunyai tiga konsep besar dalam buku ini yaitu reproduksi ilmu, kolaboratif menulis, dan plagiarisme. Salah satu hal yang mendasar untuk menjadi penulis adalah kemauan yang tinggi. Bukan hanya sekedar menyerap teori, tapi juga harus dilatih dalam praktek menulis. Salah satunya adalah menulis pengalaman sehari-hari di buku harian. Karena pengalaman merupakan ”guru terbaik” yang mampu memberikan motivasi lebih sehingga bisa memberikan makna di dalam setiap tulisan.
Menurut pak Chaedar dalam bukunya “Pokoknya Menulis “ reproduksi ilmu adalah olah-ulang Iptek  yang didapat dari sumber-sumber lain” (2005:18). Dalam masalah ini di Negara Indonesia masih kurang dalam pelaksanaanya. Bisa dilihat dari masih minimnya buku teks, jurnal maupun artikel ilmiah yang dipublikasikan setiap tahunnya. Reproduksi ilmu pengetahuan sangat erat hubungannya dengan aktivitas baca tulis. Oleh  karena itu, dengan kegiatan baca tulis diharapkan nantinya memberikan dampak positif yang signifikan dalam reproduksi ilmu pengetahuan di Indonesia.
 Membaca berarti menerima informasi dan menyerapnya dalam pikiran. Dengan  membaca banyak pengetahuan dan informasi yang didapat. Informasi itu harus dikembangkan dengan kritis. Sebab membaca kritis membuat segala informasi dan pengetahuan menjadi lebih baik. Untuk melakukan teknik (techniques) membaca kritis menurut Pak Chaedar dalam bukunya Pokoknya Menulis (2005:16) pembaca haruslah melakukan hal-hal dibawah :
·         Bacalah dengan cepat
·         Baca sekali lagi dengan lebih seksama
·         Gunakan stabilo, pulpen, atau pensil untuk menandai bagian yang menarik
·         Mengomentari margin kiri atau kanan
·         Memberi komentar atau pujian
·         Mengomentari sebagai refleksi pribadi
Membaca kritis merupakan bentuk partisipasi pembaca dalam bacaan. Dengan teknik seperti ini kemungkinan besar para pembaca dapat menyerap banyak informasi dan pengetahuan dari bacaan menjadi lebih besar. Membaca kritis pun menjadi tahapan (stages) awal dalam menulis, karena dalam membaca kritis bisa membangkitkan informasi dan pengalaman penulis tersebut.
Menulis berarti menuangkan gagasan, pendapat, ide dan pengalaman. Dalam arti lain menulis merupakan hasil penafsiran dari proses membaca yang diungkapkan dalam bentuk tulisan. Namun untuk menulis bukanlah suatu perkara yang mudah, bahkan Hyland dalam bukunya Teaching and Researching Writing menyebutkan bahwa menulis itu hal yang susah, edisi pertama bukunya saja sudah menghabiskan tujuh tahun penilitian.
 Aktivitas membaca dan menulis mempunyai peran besar dalam kehidupan di dunia, begitu pula menurut Ken Hyland (2002: 48) bahwa writing, together  with reading, is an act of literacy. Dunia ini akan terus hidup dengan adanya pembaca dan menulis, itu yang membuat mengapa tulisan sangat berperan penting terhadap kehidupan manusia.
 “Ilmuwan haruslah menulis” kata pak Chaedar dalam artikelnya yang dimuat di koran Pikiran Rakyat pada 2005. Betapa besarnya tanggung jawab seseorang yang mempunyai gelar ilmuan ini. tanggung jawab yang sudah menjadi keharusan ketika memang mempunyai gelar ilmuan. Tujuannya adalah agar Indonesia tidak menjadi penonton kemajuan pendidikan Negara lain, tapi Indonesia bangkit menjadi Negara yang ditonton dan dicontoh dalam perkembangan dan kualitas pendidikannya.
 “Kolaborasi adalah ajang bertegur sapa dan bersilaturahmi ilmu pengetahuan” (2005:25). dalam kata lain kolaborasi merupakan aktivitas duet. Adapun  duetnya tidak harus laki-laki dan laki-laki,perempuan dengan perempuan. Tetapi dengan siapa saja tetap boleh. Berkolaborasi berarti saling bekerjasama dalam menemukan kata-kata yang dianggap kurang bermanfaat atau dalam kata lain adalah mengoreksi.
Ketika menggunakan teknik berkolaborasi harus ada salah satu yang menjadi pemimpin yang mempunyai kemampuan lebih dibandingkan dengan yang lain. Tujuannya uuntuk  membimbing dan mengarahkan agar menulis dengan aturan yang benar dan menaati aturan-aturan dalam menulis. Para  penulis pemula di awal harus memupuk bahan menulisnya dari membaca buku, namun dalam arti menulis yang ditekankan disini sebagai text type yang nantinya akan diinput dalam tulisan yang pertama adalah informasi dasar.
Teknik berkolaborasi bukanlah ajang untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Tetapi  lebih kepada bagaimana teknik ini memberikan simbiosis mutualisme atau dalam istilah lain feedback yang baik. Maksudnya mengoreksi ejaan, gramatikal, tanda baca, gaya tulisan dan sebagainya. Berkolaborasi membuat penikmatnya dapat merefleksikan atau merespon tulisan temannya. Sehingga dengan berkolaborasi ini ia mendapatkan suatu pengalaman dari rasa tulisan teman sejawatnya.
Pak Chaedar dalam bukunya yang berjudul ”Pokoknya Menulis” menyebutkan bahwa dalam aktivitas menulis lebih efektif menggunakan kolaborasi. Dalam hal ini berarti secara tidak langsung beliau menggunakan formative evaluation (nilai proses), sebab jika beliau berbicara kolaborasi namun beliau menggunakan summative evaluation (nilai akhir), sangat kontras sekali. Mengapa beliau harus susah-susah menggunakan kolaborasi.
Dalam hal ini berarti ketika menulis yang harus diperhatikan oleh pendidik adalah prosesnya, karena menulis bukan diukur dari hasil tulisan namun bagaimana cara dan prosesnya dalam menulis. Karena jika untuk peserta didik menggunakan summative evaluation maka peserta didik hanya akan terfokus pada hasilnya saja. Bisa saja ia menyalin tulisan yang memang sudah bagus. Karenanya formative evaluation akan lebih baik karena bisa memupuk kemampuan pada diri penulis pemula ini.
Keterampilan menulis menurut banyak orang memang susah. Karya tulis ilmiah yang telah diwujudkan secara nyata, artinya tidak harus dipublikasikan yang tepenting karya tulis ilmiah tersebut dapat dapat dibaca, di dalamnya melekat hak cipta. Setiap karya yang diciptakan harus selalu ada hak cipta. Fungsinya adalah untuk menghilangkan praktek penjiplakan yang terjadi. Bukankah di Negara indonesia pernah terjadi kasus penjiplakan (plagiarisme) yang cukup menggemparkan waktu itu  ?  mengapa hal ini bisa terjadi  ?  mari kita telisik lebih dalam kasus penjiplakan ini.
            Menurut pak chaedar dalam buku pokoknya menulis. “Akhir tahun 2004 media massa kita ribut melaporkan kasus penjiplakan yang dilakukan oleh seorang pejabat tinggi negara. Di negara lain, kesalahan ini sudah cukup untuk memaksanya lengser dari jabatannya” (2005:185). Kejadian ini menggambarkan bahwa bobroknya mental pejabat Negara yang mempunyai gelar pendidikan tinggi tetapi masih minim dalam keterampilan menulis.
 Penjiplakan (plagiarisme) adalah pencurian gagasan, ide, kata-kata, atau hasil penelitian orang lain dan menyajikannya seolah-olah sebagai hasil dari karya sendiri. Sudah seharusnya seorang pendidik menjauhkan diri dari sikap penjiplakan. Karena penjiplakan subtansinya adalah proses pembodohan dalam sebuah pendidikan. Bukan saja menjadi kejahatan akademik yang serius,tetapi juga melawan hukum.
            Namun lebih miris lagi ketika penjiplakan semakin hari semakin marak dilakukan oleh para kaum terdidik. Bukan hanya dari pelajar atau mahasiswa.tetapi penjiplakan ini sudah merambah kedunia pengajar, dosen, dan calon guru besar dengan berbagai modus penjiplakannya masing-masing.
            Penjiplakan hasil karya orang lain masih menjadi hal serius yang harus dibenahi oleh element pendidikan di Indonesia ini. jika tindakan seperti ini masih dibiarkan berlanjut sampai saat ini, bukan  tidak mungkin hasil pendidikan yang diproduksi di berbagai macam perguruan tinggi di Indonesia ini adalah para kaum intelektual yang abal-abal. maksudnya adalah para lulusan perguruan tinggi di Indonesia ini tidak memiliki karya ilmiah yang harus mereka banggakan karena masih merebaknya proses penjiplakan tadi.
            Upaya pencegahan penjiplakan pada karya tulis ilmiah, tesis atau skripsi sangat ditentukan oleh para penilai/penguji itu sendiri. Dengan cara setiap para penguji harus teliti dan harus ketat dalam memeriksa hasil karya ilmiah seseorang. Setiap penguji harus detail mengoreksi setiap isi dari karya ilmiah itu.
            Walaupun hukum di Negara ini sudah mengatur sanksi apa yang akan didapatkan oleh seseorang yang melakukan penjiplakan ini, tapi tetap saja penjiplakan masih terjadi dimana-mana. Ini adalah efek dari hukum itu sendiri yang tidak tegas dalam penegakannya. Butuh keberanian penegakan hukum dalam hal penjiplakan ini agar Negara Indonesia tidak lagi terbelenggu dalam dunia pendidikan.
            Dari ketiga poin besar diatas yang merupakan hasil penafsiran dari buku yang berjudul pokoknya menulis dapat disimpulkan bahwa :
            Pertama, “reproduksi ilmu adalah olah-ulang Iptek yang didapat dari sumber-sumber lain”(2005:18).  Dalam hal ini di Negara Indonesia masih kurang dalam pelaksanaanya. Bisa dilihat dari masih minimnya buku teks, jurnal maupun artikel ilmiah yang dipublikasikan setiap tahunnya.
Kedua, Agar  perkembangan pendidikan menulis di Indonesia berkembang terarah sesuai dengan apa yang telah diharapan. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan teknik kolaboratif menulis di pendidikan Indonesia. “Kolaborasi adalah ajang bertegur sapa dan bersilaturahmi ilmu pengetahuan ”(2005,pg 25). Teknik berkolaborasi bukanlah ajang untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Tapi lebih kepada bagaimana teknik ini memberikan simbiosis mutualisme yang baik. maksudnya saling mengoreksi ejaan, gramatikal, tanda baca, gaya tulisan dan sebagainya.
Ketiga, masih banyaknya praktek penjiplakan (plagiarisme) dimana di Indonesia sekarang ini masih dihantui oleh kejadian penjiplakan yang masih terjadi samapi saat ini. Menurut pak chaedar dalam bukunya Pokoknya Menulis. “Akhir tahun 2004 media massa kita ribut melaporkan kasus penjiplakan yang dilakukan oleh seorang pejabat tinggi negara. Di negara lain, kesalahan ini sudah cukup untuk memaksanya lengser dari jabatannya ”(2005:185). Kejadian ini menggambarkan bobroknya mental pejabat Negara yang mempunyai gelar pendidikan tinggi tetapi masih minim dalam keterampilan menulis.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUANG LINGKUP AKHLAK, ETIKA, MORAL DAN KESUSILAAN

Dampak Pembelajaran Jarak Jauh ( PJJ) Bagi Siswa

Review Buku "Pokoknya Menulis"